Kembali Ke Jalan Yang Benar

Kembali Ke Jalan Yang Benar

Kembali Ke Jalan Yang Benar

Semangat Vagi suhu suhu semua, ini cerita pertama newbie nih, kalau gak salah sih. jadi mohon dimaapkeun kalau diluar ekspektasi suhu – suhu semua ya .

Caci maki dan bullyannya newbie terima dengan senang hati. dan kritik saran juga diterima.

==============================

Prologue .

“sssshhh Ahhh,,mas udah atuh mas, asupkeun, neng tos teu kuat, nanti jebol duluan ihh..” rengeknya dengan manja.
“hhabbarrss nehhng, hagi hasik nii (sabar neng, lagi asik nih)” timpalku dengan tetap sibuk menjamu vaginanya dengan kelihaian lidahku.
“ssllurrp, slup slupp,slurrppp” suara lidahku ketika beradu dengan vagina mojang sunda ini begitu ramai, ditambah dengan celotehan birahinya.

“ssshhhaaduhh, mas, atuh cepetannnhh, aahh, sshh, aah,, aaa, Masss, nenggkk, keluarrr niiichhhhh aaaaahhhhhh” Shinta menggelinjang dengan hebatnya, dan sempat mengejang selama beberapa detik, disertai dengan semburan cairan kenikmatan dari vaginanya yang merona.

“sshhh, ahh, Aa jail ihh, neng k ke ke luarr duluan tuh” erangnya sambil menahan gejolak derai kenikmatan dari “bibir bawah”nya yang seksi.

“hehehe, nggak apa – apa neng, yang penting mah si eneng enak duluan, sekarang mas masukin yah, siap siap nih” ujarku sambil menyiapkan Junior untuk menggempur vagina Shinta si mojang sunda yang kebetulan tidak bernasib baik, karena harus terpaksa bekerja sebagai penyalur hasrat para pria hidung belang.

==============================

Bab 1. Pertemuan

Hai gaes, namaku Clark, tepatnya Clark Anggoro Setiawan, saat ini aku berusia 30 tahun. Mungkin kalian heran sama namaku, ya karena memang saya dilahirkan dari seorang ibu berdarah Jawa dan ayah berdarah campuran Jawa-Inggris, dan kebetulan ayahku penyuka film Superm*n yang tokoh utamanya si cowok bertubuh atletis itu. Tapi sayangnya perawakan si pahlawan super itu tidak terjadi padaku, hehehe, yes. Walaupun tinggi ku 173cm dan berat badanku ideal 75kg, tapi tidak dengan urusan perut. Kebiasaanku yang suka ngemil membuat tampilan tubuhku tidak se atletis binaragawan, tapiiii, biar begitu aku gemar berolahraga lho, entah apa yang menyebabkan tubuhku tidak bisa atletis. Dan walau bentuk tubuhku tidak terlalu atletis, namun keperkasaanku dapat diacungi jempol (boleh dong sombong sedikit), terbukti dari mantan-mantanku yang sampai saat ini selalu terngiang dan merindukan kejantananku yang tergolong standart untuk orang Asia. Dengan ukuran kurang dari 17cm namun ketebalannya yang menurut mereka pas digenggam dan di”lumat” oleh vagina sempit (menurutku) mereka. Oh iya, selain dengan mantan pacarku, aku memang tidak pernah bergelut dengan dunia lendir sebelumnya.

Saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan multimedia sebagai konsultan advertising di kota Jakarta, tidak ada yang aneh sih dengan keseharianku, berangkat kerja pagi hari dan pulang sore harinya, oh ya, demi membantu menjaga kestabilan udara di Jakarta, aku juga mencoba untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi saat bekerja, selain karena memang tingkat kemacetan yang terkadang bikin stress, apalagi jarak antara rumahku dengan kantor yang terbilang memiliki “jalur neraka” di Jakarta Timur, jalur yang terkenal macet kalau pagi dan sore hari, selain itu aku juga lebih senang kalau bisa berinteraksi dengan orang lain. Nah kebiasaan inilah yang menuntunku ke “lembah kenikmatan dunia” hingga saat ini.

Semua itu berawal 6 tahun lalu di sebuah bus kota berjalur khusus, saat itu aku berangkat agak siang, karena memang ada janji untuk meeting dengan salah satu klienku yang akan memasang iklan di perusahaan tempatku bekerja. Saat sedang mengantri untuk melewati gate, tampak seorang wanita muda di depanku kebingungan sambil mengacak-acak isi tas kecilnya.

“duhh, dimana ya gue taro’, apa lupa lagi ketinggalan pas mau keluar apartemen tadi, ahhh shit bisa telat meeting kalo gue harus balik lagi ke apartemen” umpatnya.

Karena aku juga tidak ingin terlambat, dengan sok gentle diriku mencoba menawari pinjaman kartu untuk di tap ke gate.
“mmm maaf mbak, ini silahkan bisa pakai punya saya dulu, biar nggak terlalu antri di belakang”ujarku, sambil menyodorkan kartuku
“ohh iya, maaf ya mas, saya pinjam dulu, nanti saya ganti uang tapnya”jawab wanita cantik ini, sambil mengambil kartu dan mentap di mesin, saat sudah bisa melalui gate kartu kemudian diserahkan kembali kepadaku.

“ini mas, makasih lho ya, oiya, ini saya ganti uangnya” sambil menyodorkan uang, namun aku menolaknya, bukan karena gengsi, tapi memang menurutku kita harus saling membantu sesama manusia, betul tak ?

“nggak usah mbak, santai aja, lagian juga saya mikir kalau lagi ada di posisi mbak pasti sama bingungnya, apalagi di suasana pagi yang crowded begini. Bakal tambah salting pasti, hehehe” ujarku santai.

“hehehe kalo gitu thanks ya mas, oh ya nama gue Tita.”ucapnya sambil menyodorkan tangan, dan melepaskan embel-embel “saya-kamu” yang menurutku menghilangkan keformalitasan antara kami.
“oh, iya.. Clark, tapi temen temen lebih seneng panggil Mbun,” jawabku sambil menyalami tangannya, dan oh God ternyata tangannya lembut sekali, seakan tanganku menyentuh kapas, lentik jarinya kontras dengan jari-jemariku yang ‘agak’ tambun.

“lho, kok bisa ? jauh banget dari Clark ke Mbun” tanya Tita, heran.

“soalnya perut gue mendukung, sama postur tubuh yang agak bongsor yang bikin temen pada manggil Mbun, kependekan dari tambun, atau badan gede, yaaa bisa dibilang gendut lah, gue gak marah kok” selorohku panjang.

” ha ha ha ha ha, bisa aja loe mbun, eh, Clark, nama loe padahal keren lho” ucapnya sambil tertawa kecil, karena sadar kalau kita sedang di tempat umum.

“hehehe, dah santai aja, bebas lah manggil gue, mau nama atau panggilan sehari-hari juga gpp, yang penting gue dah seneng banget hari ini” ucapku kepada nona cantik bak bidadari yang saat ini berdiri disampingku.

“lho kok bisa ? pasti habis gajian ya, atau habis dapet lotere, atauuu, habis dapet jatah dari tante-tante” cerocos wanita cantik ini tanpa tedeng aling-aling yang mengakibatkan beberapa pasang mata tertuju kepada kami. Namun aku cuek aja, toh aku tidak mengenal mereka, dan juga aku tau kalau Tita sedang bercanda bertanya itu.

“hahaha yaa gak lah, kalo dapet jatah tante, mending gak usah kerja kali, ye gak?”timpalku,
“oh iya, anyway, mau ke arah mana Ta ? artikelbokep.com Kok daritadi gue liat lu ga beranjak naik bus,? kayaknya daritadi udah beberapa bus lewat dari dua arah berbeda deh?” tanyaku dengan penuh harap kalau jawabannya karena asik ngobrol bersamaku (PD boleh dong)
iya nih, gue sih mau ke arah Sudi*man eSCeBeDeh, tapi lagi gak mood banget.jawabnya lesu

nah lho, ko bisa gak mood, padahal biasanya mah masih pagi gini pasti semangat berangkat kerja, eh iya anyway emang lu kerja disana ?berondongku dengan pertanyaan penuh selidik

iya Mbun, eh gue panggil Mbun gak apa apa kan?

Bebassss, kan gue bilang, asal jangan teriak maling apa pemerkosa aja, bisa dikeroyok orang se shuttle guecandaku dan itu sukses membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Hahahahahaha, yaaa kali gue teriak disini, lagian juga klo yang merkosa elu sih gue bakalan pasrah aja dehtimpalnya, dan kata-kata terakhirnya -diucapkan setengah berbisik- barusan sukses membuat babyC sebutanku untuk si Otong- menggeliat. Berhubung naluri kelelakianku menangkap radar mesum, langsunglah aku timpali dengan nada candaan yang tidak kalah hotnya

ehh ati-ati lho, kalo gue perkosa nanti yang ada malah minta nambah

Wooww, mau doong nambahtimpalnya dengan nada canda, tapi kali ini tampak sedikit raut keingintahuan dari soro matanya.

yakiiinn? Sini sini, dekat dekat papahpancingku

unch unch unch, papahh, mamah tak tahan laaa

Hahaha, udah ah, pagi-pagi malah nggak jelas, bytheway gue juga mau ke arah sana, karena kebetulan gue ada meetup pagi ini sama klien kantor gue aku mengakhiri flirting supaya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. filmbokepjepang.com Namun sempat ku akui adegan beberapa saat lalu membuat kepala bawah mulai senut-senut, tapi begitu aku cek jam di tanganku, ternyata aku harus segera bergegas.

Eh Ta, lu masih mau lama disini? Gue harus segera naik bus berikutnya nih, biar gak telat, soalnya meetup sama klien sekitar 1 jam lagi.tanyaku berharap Tita untuk bareng denganku, dan ternyata terkabulkan.

Hayuk Mbun, bareng aja, gue juga mau ada meeting sama bos, katanya sih mau ada perjanjian gitu buat iklan perusahaan kita sama salah satu advertiser rekanan dia

Mendengar itu kok seperti ada secercah harapan ya, semoga aja bosnya dan klienku itu orang yang sama. Tidak lama kemudian, bus jurusan yang kami tunggu akhirnya datang. Berhubung jam sibuk kantor, maka aku sudah menduga kalau akan penuh, apalagi di hari Senin yang notabene awal minggu ini. Dan aku mempersilahkan Tita untuk mendahului masuk, kemudian aku mengikuti tepat dibelakangnya, kita menempati area dekat pintu karena memang untuk bisa masuk lebih ke dalam tidak cukup lagi. Karena jarak yang cukup dekat, tak ayal membuatku bisa mencium aroma shampoo yang digunakan Tita, belum lagi ditambah parfum yang menurutku tidak terlalu tajam wanginya. Sehingga mengesankan elegan dan juga sensual.

Oh ya, belum kuceritakan bagaimana bentuk fisik seorang Tita, dengan tinggi 160cm taksiranku, cukup tinggi untuk seorang wanita. Bentuk badan padat berisi, bukan gemuk, tapi semok, atau malah yang membuatnya tampak semok karena bokongnya yang agak menyundul kebelakang dan bemper depannya yang agak mancung. Taksiranku ukurannya 36B, tapi entahlah, karena tertutup blazer yang dikenakannya.

Dengan wajahnya khas Indonesia, yang membulat dengan warna matanya hitam cerah (tetap ada putihnya lho) dengan alis tebal tanpa tambahan coretan pensil alis dan pipi yang sedikit chubby, hidung sedikit mancung ke dalam, dan bibirnya tipis mungil sensual, berwarna merah. Namun aku tidak melihat lipstik tebal disana, kurasa hanya menggunakan lipgloss atau semacamnya, dan kulit kuning langsat dan halus bak pualam (hiperbola banget gak sih). Dan rambutnya panjang hampir nyaris sepinggang, ditambah dengan asesoris di ujung rambutnya, memberikan kesan manis-manis lucu gemesin gimana gitu.

Dan sekarang, posisinya bisa dibilang lebih menguntungkan lagi bagiku, karena posisinya membelakangi diriku, sehingga membuat otongku secara terpaksa tertahan bokongnya apabila bus berhenti atau jalan. Secara naluri babyC meronta-ronta, dan sambil berbisik aku bilang sama Tita.

Ta, sorry banget nih, otong gue berontak gara-gara nabrak bemper lu terus

Dan jawabannya seakan memberi lampu hijau ditambah dengan NOS maksimal yang membuat mobil melaju cepat dan lebih cepat lagi sampai batas kecepatan maksimal sehingga membuat Don Torreto kewalahan mengejar kecepatan mobil lawannya.

Eh salah cerita.

Oke lanjut, dan jawabannya membuat darah kelelakianku berdesir kencang seperti genderang mau perang

ehmm, sengaja juga gak apa-apa kok, apa mau disengajain aja?

eh, ah, eh itu, anu, aduh, ah bikin gak konsen lu Tajawabku gagap.

Dan Tita malah tertawa kecil, dan yang bikin kagetnya lagi tiba-tiba ada tangan menelusup di depan celanaku, yang kemudian ku tahu itu tangan Tita.

Eh gila lu Ta, ini di fasilitas umum, nanti kalo sampe ketahuan, abis kita ucapku berbisik kepada Tita

Biarin aja, siapa suruh tuh otong gak bisa dikendalikan ucapnya sambil menjulurkan lidahnya

Berhubung memang suasana agak padat, dan jalanan juga sedikit macet, sehingga membuat perjalanan agak sedikit lama. Dan kagetnya, Tita dengan santai mengelus bahkan terkadang memijat babyC walau dari luar celana bahan yang kukenakan, namun sudah cukup membuat tegang. Ternyata tidak seberuntung yang kubilang, karena posisiku tidak bisa ikut permainannya untuk ikut mengeksplor tubuhnya.

Dengan tetap tampang polos, namun jari jemarinya terus bergerak lincah mengelus babyC dan memijatnya. Membuatku semakin gelisah geligelibasah- tidak menentu. Perjalanan kurang lebih 15 menit ini betul-betul menyiksa birahiku. Terasa dengan lihainya jemari wanita cantik ini meremas, memijat, mengurut batang kelelakianku. Sampai aku berimajinasi bagaimana dengan sentuhan langsungnya di babyC apalagi dengan mulut sensualnya itu. Apa rasanya kalau dikulum oleh mulut mungil nan sensual itu ya. Dan sesekali Tita menoleh dengan wajah sendu dan tatapan penuh birahi, membuatku semakin blingsatan. Oh Titaa, andai saja bus ini kosong, langsung kugarap habis-habisan deh kamu Ta. Akan kulumat bibir mungilmu, kuremas payudaramu dan kuremas bongkahan indah bokongmu itu. Tapi apa daya sekarang ini aku hanya bisa pasrah menerima perlakuan wanita cantik ini, bahkan dengan sengaja pantatnya digesek-gesekkan ke celanaku, semakin menambah kuat desakan birahiku.

ahhh nikmat bangettt bossss, baru dari luar aja rasanya kayak melayang nih bossss BabyC seakan menjerit mengisyaratkan keenakannya.

damn, kalo gini caranya bisa jatuh harga diri gue sebagai penyandang lelaki perkasa, mana enak banget lagi remasannya nih cewek Bathinku meronta, tidak terima dengan perlakuan ini. Namun akhirnya siksaan nikmat ini tidak berlangsung lama, karena sudah terlihat gedung yang akan kudatangi.

Begitu telah sampai lokasi, dan kebetulan juga Tita keluar bersama dari bus. Langsung saja ku cubit manja pipinya, entah kenapa aku begitu mudah akrab dengan orang lain, terutama wanita. Mungkin karena memang pembawaanku yang easygoing dan friendly sehingga membuatku mudah untuk akrab dengan orang asing sekalipun. Dan untungnya Tita demikian, karena tidak marah dengan perlakuanku barusan, malah dengan puasnya dia tertawa terbahak-bahak.

Hahahaha, Mbunnn, mbunn, baru begitu aja udah bangun gimana kalo ngelakuin yang lain

Ah rese lu Ta, tengsin tau gue, kalo sampe ketauan tadiujarku

Tapi gak apa-apa kan, enak juga kan luselorohnya tanpa dosa

Ya nggak lahh, nanggung gue, kampret luujarku, dan bagai mendapat durian runtuh Tita berucap

Ya udah, yuk dilanjutin dengan tatapan menggoda dan penuh hasrat dan bibir bawahnya digigit manja kemudian dengan sedikit lidah dikeluarkan.

Namun karena aku sudah sedikit berpengalaman dengan tatapan seperti itu, tidak serta merta aku sambut gayung, bahkan ku goda Tita kembali.

emang yakin lu kuat ngadepin babyC gue nih dengan tatapan nakalku ke arahnya, dan menurutku sukses membuat dia salah tingkah

ehhmmm, itu kan belum terbukti, bisa aja lu ngomong doang imbuh Tita

mau bukti ? hayuk kapan tantangku

hayuk, anytime anywhere selama diluar jam kantor

Merasa ditantang demikian, darah lelakiku langsung berdesir, entah mimpi apa semalam, kok tiba-tiba ada sesosok bidadari tak bersayap datang padaku, dikirim tuhan dalam wujud kamu.

anjirrr ni cewek nantangin euy, okee gue atur strategi biar bisa membuktikan keperkasaan gue ucapku dalam hati.

Hahaha, udah ah flirtingnya, nanti gue telat nih mau meeting. Eh kok lu turun disini juga Ta, apa emang kantor lu disini? aku mencoba mengalihkan pembicaraan, gak lucu juga kan ketemu klien dalam kondisi birahi tinggi, yang ada malah gak fokus nanti.

Eh iya Mbun gak lama ada seseorang yang memanggil Tita, mungkin teman kantornya. Seorang wanita juga, yang berperawakan tidak jauh beda dengan Tita, hanya kulitnya agak putih dan wajahnya sedikit oval, dengan rambut sebahu lebih sedikit.

Hai Ta, baru nyampe lo, mana cowok lo? ucapnya kepada Tita

Eh iya Sya, baru turun dari bus gue, habis si Randy gak bisa nganter gue pagi ini, karna ada tugas keluar kota dan harus flight pagi ini

Satu hal yang ku tahu lagi, Tita sepertinya sudah punya pasangan, mungkin pacar, karena aku tidak melihat adanya cincin di jari manis Tita.

owh gitu, eh siapa nih cowok tampan disebelah lo, gebetan baru Ta? Gile lo baru berapa jam di tinggal Randy udah ada gebetan aja cerocosnya panjang lebar tanpa jeda seperti macan hendak menerkam buruan.

Apaan sih Sya, ini kenalin namanya Clark, gue juga baru kenal tadi di shuttle karna gue lupa bawa kartu buat tap dan Clark minjemin gue kartunya jelas Tita.

Dan kebetulan aja ternyata kita searah. Oh ya Clark, gue duluan ya, nih kartu nama gue ucap Tita sambil menyodorkan kartu namanya. Dan setelah itu dia bersama temannya meninggalkanku, kemudian sambil berjalan menuju sebuah gedung aku membaca kartu nama yang disodorkannya tadi. Disitu tertulis sebuah nama Arshita Kumala Dewi, S. Sos. Wow wanita berpendidikan tinggi rupanya Tita. Yang tidak kalah mengagetkan disitu jabatannya sebagai General Manager, thats amazing. Kenapa ? seorang GM masih mau berpeluh keringat di jalanan ibukota dan berdesakan di bus kota. Setau aku sih yaa, kalau sudah kelas GM biasanya minimal antar jemput supir kantor sih. Well , menarik juga nih Tita, yang lebih menarik sih ajakannya dia untuk melanjutkan dan menuntaskan apa yang terjadi di bus tadi. Oh shit, aku malah gak bisa fokus. Oke Clark fokus.

Sesaat kemudian aku sudah berada di sebuah kantor di lantai 31 dari sebuah gedung di area bisnis daerah Sudirman, menunggu klienku yang ternyata sedikit terlambat hadir karena macet. Namun walau demikian tetap kan kita harus hadir lebih dulu, untuk mengesankan ke profesionalitasan kita.

Tidak lama kemudian, masuk sesosok pria tegap dengan penampilan rapih ber jas, dan kemudian menyalamiku. Yang ku tahu beliaulah klienku, pak Gunarto namanya. Berdiri mengikuti dibelakangnya seorang wanita cantik tinggi semampai, kutaksir sekitar 165cm dengan rambut diikat dan bergaya poni di depannya, berkacamata frameless dengan blazer dan dalaman putih yang 2 kancing diatasnya terbuka, dan menonjolkan dua bukit kembarnya yang kutaksir sekitar 36D, dengan wajah oval pipi tirus dan bibir bawah agak tebal. Sepertinya asisten pribadinya.

sorry ya mas Setiawan, saya terlambat, soalnya jalanan macet banget. Ucapnya minta maaf.

Oh nggak apa-apa pak, saya juga belum terlalu lama menunggu kok jawabku

Oiya kenalkan ini Desy, asisten pribadiku, dia yang nantinya akan sering berhubungan dengan mas Setiawan perihal kerjasama kita ke depannya. Oh ya mari masuk ke ruangan saya, kita berbicara di dalam saja, nanti biar saya minta tolong pak Karjo untuk membuatkan minuman yang baru untuk mas Setiawan undangnya panjang lebar.

Kenapa beliau memanggilku dengan nama belakangku, karena memang di kartu namaku tertulis C. A. SETIAWAN Konsultan Advertising. Jadi klienku lebih sering memanggil nama belakangku, namun rekan kerjaku lebih sering memanggil nama depan atau tengahku, yaa selama masih masuk diakal, terima saja lah.

Ternyata selain penampilan yang macho, pak Gun ini juga tipikal orang yang low-profile, padahal yang kutau dari boss ku di kantor, beliau pemilik saham terbesar di beberapa perusahaan ternama ibukota, namun beliau tetap bekerja dan memilih membangun usaha yang jauh dari perusahaan yang di investasikan olehnya. Dan sifat baiknya itu terlihat saat beliau berbicara dengan pegawai kantornya, tidak terkesan bahwa dialah bosnya disitu, tapi lebih kepada dia adalah pemimpin. Yes, perbedaan antara bos dengan pemimpin terlihat jelas.

Oke lanjut deh, ini kan cerita panas yak, bukan novel, sorry sorry.

Selama kurang lebih 2 jam kami membahas kerjasama yang berakhir dengan kesepahaman yang akan dituangkan dalam perjanjian tertulis. Dan terakhir, beliau mengajakku makan siang, karena memang sudah masuk waktu makan siang. Namun karena aku masih ada janji dengan klien lain, maka dengan halus kutolak ajakannya.

Saat berpamitan dan bersalaman dengan asisten pribadinya, entah sadar atau tidak, jari asisten pribadinya seperti menggaruk telapak tanganku, dan saat kupandang, dia seperti mengerlingkan matanya kepadaku. Damn, kenapa aku malah berfikiran liar ya, ingin rasanya kutubruk tubuh sintal wanita ini, dan kunikmati dengan segenap jiwa dan ragaku. Pastinya akan kukerahkan seluruh kemampuanku untuk membuat wanita ini terkapar kelelahan. Namun sejenak aku teringat bahwa beliau adalah rekan kerjaku ke depan, dan juga karena demi menjaga kesopanan, aku hanya tersenyum dan kemudian berpamitan, bisa runyam urusannya padahal baru deal proyek, masa batal gara-gara kerlingan mata nakal tuh aspri.

Saat menuju lift, dan sedang menunggu, samar kulihat dari belakang seperti wanita yang baru kukenal pagi ini. Dengan hati-hati ku panggil saja namanya, Bu Arshita dan wanita itu menoleh, ternyata benar dia. Sejenak terpana dengan kehadiranku disitu, dan tidak lama menyambut dengan ucapan panjang lebar.

ehhh pak Clark, kok bisa di sini, hayoo pasti kamu ngikutin aku ya sampai ke kantorku. Wah bahaya nih, bisa diculik nih saya nanti

Kampret nih orang, bikin aku malu aja, mana lagi banyak orang juga nunggu lift, karena memang jam makan siang.

eh anu, bukan gitu bu, kebetulan saya juga habis meeting di PT sebelah situ.jawabku tergagap.

ohhh kirain aku dimata-matai tadi, oke deh, kamu mau turun, yuk bareng aja, sekalian kita makan siang yuk

Mungkin pembaca heran, di atas tadi bahasanya terkesan gaul, tapi kok tiba-tiba jadi formal. Yups, karena setelah membaca kartu nama tadi, dan juga menjaga etika di sebuah gedung, makanya saya mencoba bersikap sopan dengan memanggil Tita menggunakan titel di depannya, dan juga setelah membaca posisi beliau di perusahaan tersebut semakin berusaha menjaga image beliau kalau-kalau ada karyawan atau kolega beliau di gedung tersebut yang menyimak pembicaraan kami.,,,,,

====== Bersambung ke Bab 2 ======

PutriBokep

Create Account



Log In Your Account